• Kamis, 8 Desember 2022

Kolom Fatih Muftih: Desember, Terima Kasih 2021, Selamat Datang 2022

- Selasa, 7 Desember 2021 | 11:44 WIB
Ilustrasi - Kalender digital.  (Rohan )
Ilustrasi - Kalender digital. (Rohan )

Desember

Kolom Fatih Muftih

BULAN penutup tahun. Persepsi membuat bulan ini serasa lebih spesial dibanding bulan-bulan lain. Padahal, jumlah harinya sama dengan Januari, Maret, Mei, dst. Tiap Desember tiba, ada sejenis sistem dalam kepala yang mengaktifkan metode retrospeksi. Kita tiba-tiba melihat ke belakang dan mengingat-ingat apa yang telah diperbuat dan dicapai dan dilewati selama sebelas bulan.

Jika pontennya hijau, kita menghadapi Desember dengan sukacita. Kita mengambil ponsel dan membuka Instagram atau Facebook atau Twitter dan menuliskan: Terima kasih 2021 dan Selamat datang 2022. Demi perasaan bungah itu, meski masih ada 30 hari di depan, tak lupa pula lekas menyiapkan pesta penutup tahun sepesta-pestanya; harus dirayakan. 

Di hadapan yang hijau-hijau, kita cenderung mudah untuk bersikap. Akan tetapi, bagaimana jika hasil dari penjelajahan ke sebelas bulan di belakang itu yang keluar adalah ponten merah? Akankah masih berani menulis status di media sosial: Terima kasih 2021? Apakah masih selera merencanakan malam pergantian tahun dengan kawan-kawan, kembang api, minum-minuman, bakar-bakar, dan kelakar-kelakar? 

Baca Juga: 5 Kutipan Puisi Chairil Anwar yang Terkenal dan Memukau - Bagian 1

Agaknya, itu alasan Tuhan hobi menurunkan hujan di bulan Desember. Ini hari-hari ketika seluruh manusia di bawah kolong langit berhitung tentang segala yang bertinggal di belakang dan segala yang berkemungkinan di depan. Desember lebih dari sekadar bulan untuk berpesta, tapi juga bulan berpikir. Adapun hujan membuat kita lebih mudah tinggal di rumah, duduk sendiri menghadap jendela, dan hanya pikiran yang bisa merayap serta melayang ke mana-mana. 

Peristiwa macam ini yang kemudian diabadikan dalam sebuah lagu oleh Efek Rumah Kaca: “Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember / selalu ada yang bernyanyi dan berlegi / di balik awan hitam.” 

Desember saya tidak jauh berbeda dibandingkan Desember sebelumnya. Masih ada awan hitam bergelayut di luar sana—juga di dalam sini. Sejumlah buku bagus sudah selesai dibaca, masih bertumpuk-tumpuk lagi daftar baca yang terabai. Ada sederet film menyenangkan yang ditonton sepanjang tahun, berjudul-judul lagi yang masih istikamah di daftar tunggu. Ada deret utang yang terlunasi, masih tersisa yang berteriak minta segera ditunai. Ada hijaunya. Ada merahnya. 

Halaman:

Editor: Hasan Aspahani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X