• Kamis, 6 Oktober 2022

Semacam balas dendam untuk para dosen yang memberi nilai C

- Minggu, 12 Desember 2021 | 06:51 WIB
Ilustrasi - Kolom Fatih Muftih. (Skitterphoto)
Ilustrasi - Kolom Fatih Muftih. (Skitterphoto)

SETIDAKNYA, ada dua-tiga dosen yang cukup dengan membaca namanya tercetak di kartu studi, saya tahu akan mendapat nilai C di akhir semester. Apapun mata kuliahnya, selama nama-nama itu yang mengampu, semati-matian saya mengerjakan tugas dan tes, seawal-awal saya datang, tetap saja C yang akan muncul di kolom penilaian. 

Ingin saya protes. Ingin saya meluncurkan jab telak macam Ali. Ingin saya membakar motor dan mobil mereka dengan api yang paling api. Ingin saya memusnahkan mereka dengan jentik jari Thanos. Ingin saya ini, ingin saya itu. Kenyataannya, saya tetap duduk dalam kelas dan menyimak perkuliahan dan tak melakukan apa saja selain menerima—menerima bahwa saya mahasiswa biasa dan bisa apa di hadapan para Firaun. Sialnya, saya bukan Musa yang punya tongkat pembelah laut.

Baca Juga: 9 kutipan inspiratif yang menghindarkan kita dari jebakan zona nyaman dan menata normal baru

Jika banyak orang berkata dunia bekerja dengan cara yang paling misterius, saya takkan mendebatnya. Dalam perkara kuliah ini pun semesta dan isinya seolah berkongsi untuk menimpakan situasi yang benar-benar bikin berak mendadak. Firaun-Firaun di kampus itu selalu dan berulang-ulang mengampu mata kuliah yang saya suka. 

Pelik. Tapi mahasiswa semenjana macam saya bisa apa. Saat itu, rasa-rasanya keinginan bisa menulis seindah Sapardi, sebertenaga Rendra, semaut Sutardji, sehanyut Budi Darma, selihai SGA sekonyong-konyong rontok dan bubar dan ambyar. 

Bagaimana tidak, Firaun-Firaun itu mengampu mata kuliah basis kepenulisan, di antaranya Teori Sastra, Sanggar Sastra, Analisis Wacana & Teks, dan beberapa mata kuliah yang jika dikuasai dengan benar selayaknya bekal cukup untuk menjadikan siapa saja sebagai penulis mulia. 

Hanya saja, seperti yang sudah saya ceritakan tadi, sekalipun saya memindahkan Rinjani dari Lombok ke Surabaya atau menjadikan Deddy Corbuzier sebagai presiden Indonesia, nilai yang tercetak di lembar hasil studi selalu sama: C. 

Baca Juga: 6 Kutipan John Lennon yang Membuktikan Ia Percaya pada Tuhan

Teman-teman dalam kelas selalu heran dengan hasil itu. “Bagaimana mungkin,” kata salah seorang karib, “Aku yang tugasnya dibuatin kamu saja dapat A. Sedangkan kamu sendiri malah dapat C? Kamu ada masalah apa sama Pak …. sama Bu …?”

Halaman:

Editor: Hasan Aspahani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X