• Kamis, 6 Oktober 2022

Gara-gara kamera kecil nyaris gagal nonton timnas Indonesia berlaga di Singapura

- Senin, 20 Desember 2021 | 16:52 WIB
Suasana laga timnas Indonesia vs Malaysia di Piala AFF 2020.  (Sultan Yohana)
Suasana laga timnas Indonesia vs Malaysia di Piala AFF 2020. (Sultan Yohana)
 
Pengantar: Orang boleh tinggal di luar negeri sekian lama, tapi dalam hal sepakbola dia tetaplah pendukung negaranya. Penulis kita Sultan Yohana ini jelas bukan pengecualian dari hal itu. Bersama istrinya yang warga negara Singapura, ia menonton laga timnas Indonesia vs Malaysia.
 
Nyaris saja ia tak boleh masuk karena kekakuan petugas menerapkan aturan. Gara-gara kamera kecil nyaris saja dia gagal menonton timnas Indonesia berlaga dan melaju ke babak semifinal Piala AFF 2020.
 
Sultan membandingkan pengalamannya menonton laga-laga penting di negeri singa itu. Toh kesalnya terpuaskan juga karena timnas Indonesia menang telak, dan dia jadi saksi malam itu.
 
 
 
Kolom - Tanpa Nikmat Menonton Bola
 
: Empat tahap pemeriksaan Sebelum masuk Stadion Singapura
 
Nonton bola saja, kayak tersangka teroris!
 
Ngedumel saya ketika petugas pemeriksa, seorang pria penuh uban, yang memeriksa tas saya, benar-benar menolak mengizinkan saya dan bini masuk Stadion Nasional Singapura, untuk melihat laga penyisihan grup Malaysia versus Indonesia, Minggu (20/12/2021) malam.
 
"Ini cuma kamera kecil, tidak bisa dibuat apa-apa," saya tetap ngotot mencoba meluluhkan kekerasan pria beruban itu. Rekannya, petugas perempuan paruh baya, terlihat tidak enak dengan kekerasan hati rekannya.
 
 
"Ya, tapi itu ada flashnya bukan," ia beralasan.
 
"Semua kamera ada flashnya!" saya masih ngotot untuk mematahkan alasannya.
 
"Ya, tapi aturannya begitu. Tidak boleh bawa kamera yang ada flashnya!"
 
"Oke, akan saya simpan, ndak saya pakai selama di stadion."
 
 
"Tetap tidak boleh!"
 
Saya pun, dengan dongkol segede jengkol, melengos pergi dari hadapan petugas pemeriksa yang kakunya naudzubillah itu. Terbayang, kegagalan menonton tim kesayangan hanya karena ada kamera mirrorless kecil Canon EOS M50 di tas saya.
 
"Stupid rule," teriak saya sambil pergi berlalu dari dua petugas tadi. Saya kemudian bertanya-tanya pada petugas lainnya, apakah ada loker di sekitar situ yang bisa disewa. Semuanya menggeleng tidak tahu. Untuk balik ke rumah, tentu tidak mungkin sekedar menaruh kamera, karena laga akan segera dimulai.
 
Di tengah rasa putus asa, saya coba-coba kembali masuk lewat pintu lain. Kali ini, kamera langsung saya tenteng, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Di pemeriksaan pertama, saya kudu menunjukkan bukti sudah divaksin dan harus scan barcode Trace Together. Pemeriksaan kedua, segala botol minuman dan makanan harus dilucuti, tas dibuka, dicek semua.
 
Alhamdulillah lolos.
 
Si petugas tidak mempersoalkan kamera yang saya bawa.
 
Pemeriksaan ketiga, petugas metal detektor mengecek tubuh secara keseluruhan. Benda-benda di kantong-kantong celana harus dilucuti. Di pemeriksaan terakhir, giliran tiket diperiksa dan discan untuk kemudian setelah kelar, kami diperbolehkan masuk.
 
 
Kayak hendak bertemu presiden saja, pikir saya. Prosedur yang begitu njlimet dan rumit ini, nyaris membuat saya kehilangan gairah menonton bola.
 
Singapura, terlalu berlebihan menerapkan prosedur keamanan. Padahal mereka tahu, nyaris semua penonton yang datang, mereka tinggal di Singapura, yang sudah sangat paham dan akrab dengan kebiasaan hidup di Singapura. Mengingat kasus pandemi yang membuat orang luar negeri enggan datang hanya cuma hendak nonton bola.
 
Untung, akhirnya Indonesia bisa membantai Malaysia 4-1. Kedongkolan sirna, seiring habisnya suara, untuk berteriak-teriak sepanjang laga, menyemangati Evan Dimas dkk. Apalagi dilarang bawa makanan dan air minum di dalam stadion, juga tidak ada penjual. Benar-benar tanpa nikmat saat menonton bola di Stadion Nasional Singapura.
 
 
Tiga kali saya menonton bola di Kallang National Stadium. Stadion utamanya Singapura. Ketika menonton tim kesayangan saya, Arsenal berkunjung, tiga tahun silam. Setahun sebelumnya, saya juga datang ke Kallang, untuk melihat Lionel Messi bersama timnas Argentina main melawan Singapura. Sialnya, Messi cuma mak bedunduk, lewat Singapura saja. Setelah itu kembali ke Eropa tanpa mau bermain.
 
Dari tiga kesempatan itu, laga Timnas versus Malaysia inilah pengamanan paling ketat. Sebelum-sebelumnya, kami masih bisa menikmati makanan dan minuman yang dijual di dalam stadion. Meskipun dengan harga lebih tinggi. Ndak masalah membawa kamera.
 
Pemeriksaan juga tak serumit kemarin. Mungkin karena mereka berpikir, Indonesia adalah musuh bebuyutan Malaysia.
 
 
Padahal di luar stadion, sesama suporter akrab bercengkrama. Berfoto bersama. Saya sempat ngobrol dengan Firdauz, seorang supertor Malaysia asal Johor yang sudah tiga tahun bekerja di Singapura. Ngobrolin sepakbola negara masing-masing negara kami. Dengan guyub dan tanpa kebencian.
 
Memang begitulah seharusnya saudara serumpun. Akrab bersahabat dan, dan hangat berkerabat. Karena di tubuh kita, mengalir darah yang sama.***
 
 

Editor: Hasan Aspahani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X