Refleksi Idul Fitri: Lahirnya Pemimpin Yang Merakyat

- Senin, 2 Mei 2022 | 07:51 WIB
Salim Segaf al-Jufri
Salim Segaf al-Jufri

 

Oleh: Salim Segaf al-Jufri

Hari Raya Idul Fitri dimaknai secara beragam oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Yang paling lumrah, disambut sebagai hari kemenangan. Ini jenis peperangan sangat unik, bukan melawan siapa (against whom), tetapi melawan apa (against what). Yakni, hawa nafsu yang lebih besar bahayanya dari segala jenis musuh.

Makna lain adalah kembali kepada fitrah (the nature of human). Sejalan dengan hadits sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, sanadnya dari Abu Hurairah r.a.: “Barangsiapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah berlalu.” Putih bersih seperti bayi yang baru dilahirkan.

Pemaknaan berbeda membentuk sikap dan disiplin berbeda pula. Bagi mereka yang ingin merebut kemenangan, maka bulan Ramdhan dipersepsikan sebagai kawah candradimuka untuk membakar segala rupa nafsu angkara. Bukan kebetulan, jika Muhammad Rasulullah Saw sendiri menghadapi perang besar (Ghazwat al-Badr) pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah (17 Maret 624 Masehi). Semangat berkobar untuk menaklukkan hawa nafsu berujung pada pekik takbir, tahlil dan tahmid.

 Baca Juga: Haji Faisal dan Keluarga Lakukan 'Ritual' Ini untuk Kenang Vanessa-Bibi Saat Lebaran

Itu salah satu keunggulan nilai Islam yang universal, karena mampu memadukan potensi kemarahan (ghadab) dan perlawanan (muqawamah) dengan kemaafan (afwu) dan perdamaian (salam) dalam diri sendiri. Betapa keliru, pandangan segelintir pengamat yang berteori bahwa persepsi tentang jihad dan ghirah Islam memunculkan sikap intoleran dan kekerasan (terorisme). Mereka hanya memahami Islam dari dari aspek negatif.

Sementara, mereka yang ingin kembali ke fitrah diri akan melakukan proses purifikasi menuju orisinalitas atau otensitas pribadi. Menanggalkan segala kepalsuan dan pencarian yang justru melahirkan kekosongan makna hidup. Kekayaan (fortune), kemasyhuran (fame), dan kekuasaan (power) merupakan target yang dikejar kebanyakan manusia. Bahkan, ada orang yang sengaja bermain-main (play the game) untuk mendapat semua kepalsuan itu.

Ketika kesadaran meruak, maka orang terkaya (crazy rich), figur popular (selebrity) dan tokoh berkuasa (powerful person) akan tunduk., Lemah tak berdaya. Kekayaan, kemayshuran dan kekuasaannya ternyata tak bisa membantunya mencapai tujuan yang diinginkan atau menyelamatkan dirinya dari marabahaya. Dari sini kita menyaksikan fenomena hijrah yang melanda berbagai kalangan di seluruh pelosok dunia.

Halaman:

Editor: Nur Fitriyani

Tags

Terkini

Meluruskan Pemahaman Food Loss dan Food Waste

Selasa, 31 Januari 2023 | 10:38 WIB

Mitigasi Limbah Sisa Makanan di Indonesia

Kamis, 19 Januari 2023 | 13:43 WIB

Langkah Tepat Jokowi Tangani Krisis (Akses) Pangan

Selasa, 10 Januari 2023 | 15:37 WIB

Saatnya Jepang Menoleh Ke Eurasia

Jumat, 6 Januari 2023 | 21:47 WIB

Tantangan Profesionalisme Polri itu Bernama Integritas

Rabu, 21 September 2022 | 16:09 WIB

Kolom: Budaya kerja paruh waktu bocah-bocah Singapura

Kamis, 16 Desember 2021 | 16:55 WIB

Kolom: Apakah ada geng preman di Singapura?

Senin, 13 Desember 2021 | 17:01 WIB
X