• Minggu, 22 Mei 2022

Sastrawan Akhmad Sekhu: Saya Ingin Berkarya Seumur Hidup

- Jumat, 13 Mei 2022 | 20:45 WIB
Sastrawan Tegal Akhmad Sekhu dengan novel terbarunya Pocinta. (Antara/Dokumen pribadi)
Sastrawan Tegal Akhmad Sekhu dengan novel terbarunya Pocinta. (Antara/Dokumen pribadi)

bicaranetwork - Menulis sudah menjadi kebiasaan sastrawan asal Tegal, Jawa Tengah Akhmad Sekhu yang dipupuk sejak kecil. Meski sekarang sibuk sebagai jurnalis tapi semangat untuk selalu berkarya tetap dijaga.

Maka lahirlah cerpen maupun puisi yang dimuat di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional, beberapa diantaranya, Lelaki Jempolan, Sujud Terlama di Dunia, Kotokowok, Teror Dodol, Sedekat Mei Juni.

Selain itu, Akhmad Sekhu juga telah melahirkan sejumlah buku puisi tunggal seperti Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Memo Kemanusiaan (manuskrip) serta tiga buah novel yakni Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018) serta Pocinta (2021).

 Baca Juga: Ketum Bamus Betawi Desak Ruhut Sitompul Minta Maaf Atas Cuitannya Soal Anies Baswedan

“Saya ingin terus berkarya seumur hidup saya. Alhamdulillah, saya masih tetap semangat berkarya," ujar ayah Fahri Puitisandi Arsyi dan Gibran Noveliandra Syahbana itu di Jakarta, Jumat.

Sementara itu kumpulan cerpennya “Semangat Orang-Orang Jempolan" siap terbit selain itu Sekhu sedang mempersiapkan buku puisi ketiganya yang berjudul "Memo Kemanusiaan” .

Dalam "Memo Kemanusiaan", Akhmad Sekhu mengangkat banyak tema di dalamnya, mulai Pandemi Covid-19, tenaga kesehatan sang pejuang kemanusiaan, hikmah dari pandemi, kita harus selalu cuci tangan, berjemur, hingga kita harus vaksin, sampai puisi menyinggung korupsi di tengah bansos pandemi yang sangat memilukan.

Kemudian, tentang situasi negeri yang masih terbelah, juga masih derasnya urbanisasi, dunia perfilman, puisi-puisi religi tentang Ramadhan, puisi-puisi hujan, ibu, pernikahan, hingga tentang keluarga.

Baca Juga: Makin Menggila, Israel Lanjutkan Serangan di Lokasi Jurnalis Al Jazeera Terbunuh

Halaman:

Editor: Nur Fitriyani

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Januari - puisi Joko Pinurbo

Rabu, 5 Januari 2022 | 08:23 WIB

Kapal Nuh - puisi Subagio Sastrowardoyo

Selasa, 4 Januari 2022 | 05:33 WIB

Kabut dalam Hujan Januari - puisi Taufiq Ismail

Senin, 3 Januari 2022 | 05:00 WIB

Dari Rembang ke Rembang - puisi Abdul Hadi WM

Minggu, 2 Januari 2022 | 05:00 WIB

Beberapa Jam Sebelum 2022 - puisi Hasan Aspahani

Sabtu, 1 Januari 2022 | 07:39 WIB

Tobat - puisi Rendra

Sabtu, 1 Januari 2022 | 07:31 WIB

Justru pada akhir tahun - puisi Rendra

Jumat, 31 Desember 2021 | 18:50 WIB

Pantun dan arti pepatah: lonjak bagai labu dibenam

Sabtu, 25 Desember 2021 | 08:46 WIB

Nyanyian Sukma - Puisi Indah Kahlil Gibran

Kamis, 23 Desember 2021 | 09:07 WIB

Renungan perihal waktu - puisi Kahlil Gibran

Senin, 20 Desember 2021 | 15:58 WIB
X